tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Jumat, 12 Des 2014

Produksi pipa migas, Spindo beli mesin baru

KARAWANG. Produsen pipa, PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk atau Spindo kian gencar menambah produksi. Usai menambah produksi pipa untuk otomotif, kali ini perusahaan membeli mesin untuk produksi pipa untuk industri minyak dan gas.

Mesin baru Spindo ini dibeli dari Milltech, perusahaan pemasok mesin asal Korea Selatan. Kontrak pembelian mesin diteken di pabrik milik Spindo, Karawang, Kamis (11/12). Adapun mesin ini akan memproduksi pipa berdiameter 10 inch dan 24 inch.

Tedja Sukmana Hudianto, Wakil Direktur Utama PT Steel Pipe bilang, mesin baru itu berkapasitas produksi maksimum sampai 40.000 ton per bulan. Jika efektif, mesin baru itu bisa menambah kapasitas produksi pipa Spindo yang saat ini baru mencapai 42.150 ton per bulan. 

Tedja memperkirakan, mesin baru tersebut mulai produksi pada kuartal II 2015, dan produksi secara komersial pada pertengahan tahun 2016. Adapun pangsa pasar pipa yang dibidik dari mesin baru ini adalah, pasar pipa untuk industri minyak dan gas. "Investasi mesin ini US$ 80 juta," kata Tedja.

Selain menambah mesin, perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ISSP ini berencana mendirikan pabrik baru di Gresik, Jawa Timur. Perusahaan telah mempersiapkan lahan seluas 100 hektare guna merakit mesin yang dibeli dari Milltech itu.  

"Proses konstruksi pabrik kami mulai kuartal II-2015 dan selesai tahun 2016 dengan investasi US$ 20 juta," katanya.  Apabila pabrik ini rampung, Spindo merelokasi pabrik Surabaya ke pabrik barunya ini. 

Tedja bilang, pabrik di Surabaya akan dipindah ke Gresik agar ada efisien dari sisi transportasi. Adapun pabrik Spindo yang ada di Karawang, Jawa Barat tetap fokus memproduksi pipa untuk kebutuhan industri otomotif. 

Perlu diketahui, tahun 2015, perusahaan membidik penjualan Rp 4,8 triliun-Rp 5 triliun. Sepanjang tahun ini, Spindo memperkirakan pendapatan Rp 3,5 triliun, lebih rendah karena banyak proyek infrastruktur tertunda. 

Tedja memperkirakan, lebih dari 60% kontribusi pendapatan berasal dari penjualan pipa infrastruktur dan konstruksi. Sisanya dari sektor lain, termasuk pipa untuk kebutuhan industri otomotif.