tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Kamis, 20 Nov 2014

Simak sejumlah tantangan industri baja tahun depan

Selain gempuran impor, tantangan industri baja tahun depan adalah mengenai harga baja yang belum kunjung membaik. Harga yang kurang baik disebabkan karena produksi baja China atau Tiongkok yang tinggi. Tiongkok memiliki kapasitas produksi 750 juta ton per tahun, setengah dari kebutuhan baja dunia yang sebesar 1,5 miliar ton.

Walau ada perlambatan ekonomi di China dan dunia sehingga permintaan baja juga menurun, namun alih-alih mengurangi produksi produsen baja Tiongkok masih terus mempertahankan target produksi.

Alhasil terjadi kelebihan pasokan baja di dunia. Harga baja pun jadi anjlok, karena pasokan lebih banyak dari permintaan. Adapun baja-baja Tiongkok itu masuk dan membanjiri Indonesia, sehingga baja produksi dalam negeri harus bersaing ketat.

Selain soal harga baja, industri baja juga bergantung dari nilai tukar rupiah yang tak kunjung membaik. Pasalnya bahan baku produksi baja seperti biji besi masih impor, dan bahan baku energi seperti gas juga menggunakan kurs dollar.

Belum lagi industri baja, masih harus menghadapi kenaikkan tarif dasar listrik yang terus meningkat tahun ini. Beban energi mengantungi 20%-30% dari beban produksi perusahaan. "Faktor-faktor eksternal inilah yang sulit ditebak dan tak bisa dikontrol perusahaan. Ini membuat merah laporan keuangan perusahaan baja hampir di seluruh dunia," ujar Irvan.

 

http://industri.kontan.co.id/news/simak-sejumlah-tantangan-industri-baja-tahun-depan