tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Rabu, 02 Jul 2014

Pengusaha: Kenaikan Tarif Listrik Tidak Rasional

Kalangan pengusaha masih belum menerima kebijakan pemerintah menaikkan tarif listrik. Sekjen Gabungan Asosiasi Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) Franky Sibarani menegaskan, pengusaha menolak kenaikan tarif tegangan listrik (TTL).

“Karena yang dinaikkan yang produktif. Tetapi yang tidak produktif tidak dinaikkan secara proporsional,” kata Franky.

Franky mengatakan, jika hanya golongan produktif yang tarif listriknya dinaikkan, hal tersebut akan berdampak terhadap pengurangan kapasitas produksi, bahkan sampai penghentian produksi.

Kenaikan tarif listrik juga berakibat pada penundaan investasi atau ekspansi pabrik. Ini akan menyebabkan daya saing industri Indonesia kian rendah.

“Saya mengkritisi pemerintah yang tidak menaikan golongan rumah tangga 450VA dan 900VA yang bayarnya hanya Rp 30.000 dan Rp 60.000 per bulan dan sudah 10-11 tahun tidak naik. Tetapi UMR dalam 5-6 tahun terakhir sudah naik 90 persen sampai 100 persen. Jadi, pemerintah irasional dalam mengambil keputusan,” ujarnya.

Menurut Franky, keputusan menaikkan tarif listrik lebih disebabkan kepanikan pemerintah yang tidak bisa mengelola kewajibannya dalam mengumpulkan pajak. “Sehingga target penerimaannya tidak tercapai. Juga karena kebijakan energi yang tidak rasional,” katanya.

Ditemui terpisah, Direktur Jenderal Kelistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jarman beberapa waktu lalu menuturkan, kenaikan TTL sudah sesuai dengan amanat Undang- undang No. 30 tahun 2007 tentang Energi serta Undang-undang No.30 tahun 2009 tentang Ketenagalistrikan, yang menyebutkan subsidi diberikan hanya kepada masyarakat tidak mampu.

“Makanya pemerintah memastikan pelanggan rumah tangga 450 VA dan 900 VA itu masih mendapat subsidi. Toh daya segitu hanya untuk basic need, lampu, televisi, air. Bukan untuk kenikmatan air conditioner,” katanya.

Selain itu, dia juga meminta kepada kalangan industri untuk tidak melemparkan kesalahan faktor biaya tinggi, kepada persoalan listrik. Menurut Jarman, beberapa hal yang menyebabkan biaya produksi tinggi adalah biaya logistik, perizinan-perizinan usaha, dan lainnya. “Karena itu, jangan dijadikan pembenaran untuk menolak kenaikan tarif listrik,” ujarnya