tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Selasa, 06 Mei 2014

Pabrik baja Gunung Sahapi siap produksi 1 juta ton

Produksi baja dalam negeri semakin kuat. Pasalnya, Indonesia akan ketambahan pabrik baru yang dibangun oleh PT Gunung Gahapi Sakti berkongsi dengan investor asal China, Nanjing Iron and Steel Co (Nisco). Pabrik yang sudah mulai ground breaking sejak April 2014 ini akan memproduksi besi baja sebesar 1 juta ton setiap tahunnya.

Pabrik ini akan dibangun dalam dua tahap. Di tahap pertama, kapasitas produksi baru sekitar 500.000 ton per tahun. Rencananya, pabrik tahap satu akan selesai dibangun di tahun 2016.

Lalu, pembangunan akan dilanjutkan ke tahap kedua. Untuk tahap kedua ini, kapasitas produksi tak jauh beda dengan sebelumnya dan ditargetkan kelar di tahun 2017. "Kerjasama ini sangat strategis, mengingat kedua belah pihak telah menjadi ahli di bidangnya masing-masing," ujar Effendi Sudarsono, Senior Advisor PT Gunung Garuda Group, Senin (5/5).

Pabrik seluas 40 hektare (ha) di Medan ini diperkirakan menelan dana investasi sebanyak US$ 200 juta. Sebanyak US$ 100 juta dikucurkan untuk pembangunan pabrik tahap pertama. Sisa dana diperuntukkan untuk pabrik tahap kedua.

Harjanto, Direktur Basis Industri Manufaktur, Kementrian Perindustrian (Kemperin) menyambut baik rencana tersebut. Munculnya pabrik baru tersebut diharapkan dapat mensubstitusi kebutuhan yang dipenuhi dengan impor.

Apalagi, kebutuhan baja semakin meningkat setiap tahunnya. Jika di tahun 2010, kebutuhan baja sekitar 6,06 juta ton.

Pada tahun 2015 nanti, diproyeksikan kebutuhan baja sekitar 13,8 juta ton. Lalu, di tahun 2025, kebutuhan baja bisa mencapai 26,2 juta ton. "Pemerintah memiliki tugas untuk memperkuat industri hulu baja dalam negeri," jelas Harjanto.

Selama ini, impor baja semakin besar. Dari data Kemperin, dalam lima tahun terakhir, impor baja merangkak naik. Pada tahun 2009, impor baja sekitar US$ 6,11 miliar. Tahun 2010, impor baja naik menjadi US$ 8,46 miliar. Di tahun 2012, impor baja bisa mencapai US$ 13,39 miliar. Tahun lalu, realisasi impor baja sebesar US$ 14,29 miliar.

Selain menahan impor, munculnya pabrik baru membuat ekspor baja meningkat. Di tahun 2011, Indonesia mengekspor baja US$ 2,5 miliar. Namun, tahun 2012, nilai ekspor baja turun menjadi US$ 2,16 miliar. Nah, tahun 2013, ekspor baja terus turun 9,49% menjadi US$ 1,95 miliar.

Untuk meningkatkan industri baja, Kemperin mengusulkan insentif fiskal dalam bentuk tax smelter dalam jangka waktu antara 5 tahun sampai 20 tahun. Insentif fiskal ini diberikan kepada industri yang menghasilkan barang logam. Kriterianya, investasi minimal Rp 1 triliun.

Usulan kebijakan lainnya adalah pemberian fasilitas tax holiday khususnya untuk industri di sektor prioritas seperti industri pellet dan sponge iron. Tujuannya untuk mempercepat pembangunan di sektor tersebut dan pemenuhan bahan baku untuk pembuatan crude steel.

 

(source: http://industri.kontan.co.id/news/pabrik-baja-gunung-sahapi-siap-produksi-1-juta-ton)