tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Jumat, 28 Mar 2014

Produsen Besi dan Baja RI di Ujung Tanduk?

Industri besi dan baja saat ini bagaikan telur di ujung tanduk. Pasalnya, salah satu industri terpenting di Tanah Air ini mengalami tekanan dari berbagai sisi sehingga kinerja perusahaan produsen baja diperkirakan masih memburuk.

Co-Chairman Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISA) Ismail Mandry mengungkapkan sejak awal 2013 sampai sekarang, industri baja dan besi dihantui nilai tukar rupiah yang makin jeblok terhadap dolar AS.

“Jika dolar melambung maka kita sulit tumbuh. Untuk diketahui bahan baku baja dan besi itu 70-80% impor. Sedangkan daya beli dalam negeri itu terbatas sehingga kita tidak bisa menaikkan harga begitu saja,” ungkapnya saat dihubungi, Minggu (2/2/2014).

Ditambah lagi saat ini, sambung Ismail pemerintah segera memberlakukan kenaikan tarif listrik untuk industri golongan I-3 khusus perusahaan terbuka dan I-4 mulai Mei-Desember 2014.

“Belum kita recovery dari masalah rupiah kini dihadapkan kembali dengan kenaikan listrik,” jelasnya.

Kenaikan tarif listrik ini, menurut Ismail sebenarnya tidak ada masalah jika memang kenaikannya sesuai. Tidak serta merta 64% secara bertahap dari Mei 2014 sampai Desember 2014.

“Kenaikan tarif listrik setidaknya dilakukan bertahap hingga 3 tahun ke depan,” ungkapnya.

Menurut Ismail, jika dilakukan pada tahun ini saja, maka akan berdampak pada naiknya harga baja sebesar 44-45% diakhir tahun 2014.

Seperti diketahui Pemerintah memberlakukan kenaikan tarif listrik untuk golongan I-3 khusus perusahaan terbuka total sebesar 38,9% tahun 2014, sedangkan untuk golongan I-4 naik total 64,7%.

Golongan listrik I-3 yang sudah menjadi perusahaan terbuka (terdaftar di bursa saham) adalah golongan industri yang memiliki daya >200 Kva Tegangan Menengah, sedangkan golongan listrik I-4 adalah industri yang memiliki daya 30.000 Kva Tegangan Tinggi. Kedua golongan ini yang akan dicabut subsidi listriknya dengan cara menaikkan tarifnya.

Ketua Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA) yang juga Dirut PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), Irvan Kamal Hakim pernah mengungkapkan, 361 perusahaan baja dan besi di Indonesia tidak setuju dengan kebijakan pemerintah akan menaikkan tarif listrik pada Mei-Desember 2014 secara bertahap per dua bulan.

"Kita setujunya kenaikan tersebut dilakukan bertahap dan dalam rentan waktu yang panjang. Misalnya mulai akhir tahun naiknya hanya 5%, akhir tahun depannya lagi 5%, hingga tarifnya tidak disubsidi lagi," ujarnya.

Analis dari Trust Securities, Reza Priyambada menyampaikan industri baja nasional masih lesu pada tahun ini. “Selain depresiasi rupiah dan isu kenaikan tarif listrik, belum pulihnya pasar baja di luar negeri bakal mempengaruhi penjualan baja," kata Reza.

"Di tingkat internasional harga baja terus mengalami penurunan sehingga akhirnya berpengaruh terhadap pasar di dalam negeri," tambahnya.
Reza mengatakan, lesunya kondisi baja domestik juga sama dialami oleh produsen baja global yang telah mengalami kerugian akibat gejolak kondisi ekonomi global yang belum berakhir dan lemahnya demand pasar.

Menurut catatan, sejumlah perusahaan baja global mencatatkan kerugian besar gejolak perekonomian global dan lemahnya permintaan pasar seperti yang di alami oleh perusahaan baja terbesar di dunia, Arcelor Mital, US Steel, Schnitzer Steel, Blue Scope serta masih banyak lagi perusahaan dunia lainnya.



(source: http://finance.detik.com/read/2014/02/02/100809/2484673/1036/2/produsen-besi-dan-baja-ri-di-ujung-tanduk)