tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Selasa, 04 Mar 2014

Asa Krakatau Steel di Anak Usaha

PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menargetkan volume penjualan baja tahun ini mencapai 2,6 juta ton. Angka ini tumbuh 9,7% dari penjualan tahun lalu yang mencapai 2,37 juta ton. Perusahaan baja pelat merah yang juga dikenal dengan sebutan KS ini optimistis, permintaan baja masih bisa naik tahun ini.
 
Direktur Utama Krakatau Steel Irvan K. Hakim menyatakan, meski permintaan di dalam negeri masih tinggi, ada dua tantangan terbesar dalam industri baja tahun lalu yang masih bakal dihadapi perusahaan tahun ini. Pertama, ketidakstabilan nilai tukar rupiah. Kedua, pasokan berlebih komoditas baja di pasar internasional.
 
Ketidakstabilan nilai rupiah sangat berpengaruh pada nilai penjualan dan harga pokok produksi (HPP) tahun lalu. Walhasil, kedua tantangan tersebut sukses menurunkan kinerja perusahaan sepanjang tahun 2013 lalu.
 
Dalam paparan publik yang digelar Senin (3/3), perusahaan baja pelat merah tersebut melansir rugi bersih sebesar US$ 13,9 juta. Salah satu sebab kerugian bersih adalah hilangnya nilai penjualan sebesar US$ 39,4 juta akibat nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) yang terdepresiasi.
 
Buntut dari pelemahan kurs, HPP turun 8,1% menjadi US$ 1,98 miliar seiring dengan penurunan nilai penjualan. Selain itu, harga bahan baku iron ore pellet (IOP) juga turun 15,1%. "Meski tahun 2013 volume penjualan kami naik, tapi dari sisi nilai justru turun," kata Irvan.
 
Secara rinci, volume penjualan sepanjang 2013 adalah  sekitar 2,37 juta ton, tumbuh 3% dari 2,30 juta ton di 2012. Sementara penjualan sepanjang 2013 US$ 2,08 miliar padahal di 2012 masih sebesar US$ 2,28 miliar.
 
Tak impor slab lagi
 
Meski kinerja di tahun lalu tidak menggembirakan, tapi perusahaan itu telah menyiapkan jurus untuk memoles kinerja di tahun ini. Paling tidak, Krakatau Steel berharap mencetak kinerja tahun ini di atas tahun lalu.
 
Harapan tersebut terletak di pundak pabrik PT Krakatau Posco, perusahaan kongsi antara KS dengan Pohang Iron and Steel Company (Posco), perusahaan asal Korea Selatan yang mulai beroperasi awal tahun ini.
 
Asal tahu saja, pabrik ini bakal memproduksi bahan baku baja berupa pelat dan slab untuk memenuhi kebutuhan berbagai sektor industri, di antaranya industri berat, pipa, ship building, dan marine construction. Slab adalah kebutuhan utama dalam memproduksi baja hot rolled coil (HRC) yang merupakan baja andalan dari KS.
 
Direktur Keuangan Krakatau Steel Sukandar menyatakan, pengoperasian pabrik Krakatau Posco bakal menekan biaya kerja (working capital). Krakatau Posco digenjot agar bisa memproduksi 1 juta ton-1,5 juta ton slab.
 
Pasokan slab tersebut akan mengefisienkan kinerja Krakatau Steel. "Ini akan sangat efisien. Sebab, biasanya kami mengimpor dan butuh waktu untuk bisa memproduksi sekitar tiga bulan. Tapi sekarang tak perlu tunggu lama, langsung produksi dalam hitungan hari," beber Sukandar.
 
Asal tahu saja, sebanyak 1,16 juta ton baja jenis HRC terjual selama 2013. Jumlah ini mencapai 51% dari total penjualan KS tahun lalu.
 
Meski optimistis dengan pabrik baru, tapi sepertinya Krakatau Steel tak berani mematok target terlalu muluk. Perusahaan itu memilih tak mau berandai-andai tentang potensi kontribusi pabrik ini terhadap kinerja perusahan tahun ini. Maklum, tahun lalu, perusahaan kongsi ini menyumbang kerugian sebanyak US$ 11,49 juta. "Kami belum bisa bilang berapa target kontribusi pendapatan ke KS tahun ini," pungkas Irvan.      
 
 
(source : http://industri.kontan.co.id/news/asa-krakatau-steel-di-anak-usaha)