tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Kamis, 27 Feb 2014

Harga Baja Masih Terus Reli Hingga Juni 2014

Industri Baja mulai meniggalkan masa suram. Setelah tahun lalu harga baja berada di titik terendah, di tahun ini, harga baja perlahan terus naik. Indonesia Iron and Steel Industries Association (IISA) memperkirakan, kenaikan harga baja yang terjadi pada awal tahun ini akan terus berlanjut hingga pertengahan tahun nanti. Kenaikan harga baja berada di kisaran 15% sampai 20%. 
 
Lihat saja, pada Januari harga baja canai panas atau hot rolled coils (hrc) dengan tingkat ketebalan diatas 2 mm sekitar US$ 700 per ton. Tahun lalu, harga rata-rata baja untuk jenis yang masih sama masih sekitar US $ 650 per ton. Padahal dua tahun sebelumnya, harga HRC bisa mencapai US $1000 per ton. “Sampai Juni 2014, proyeksi kami, harga baja di pasar di pasar internasional akan naik”, ujar Irvan Kamal Hakim, Chairman IISA.
 
Meskipun terbantu dengan kenaikan harga di hilir, produsen baja harus bekerja keras supaya bisa tumbuh tahun ini. Sebab, sekitar 70%-80% bahan baku baja berasal dari impor. Dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang fluktuatif, ongkos semakin besar. Apalagi di tambah dengan kenaikan upah minimum regional (UMR) dan tariff listrik. 
 
Beruntung, walau harga baja naik, permintaan terus mengalir deras sehingga penjualan baja masih memiliki potensi untuk tumbuh. Merujuk pada perhitungan IISA, konsumsi baja dan produk baja sampai tahun 2020 mencapai 20 juta ton. Setiap tahun, sejak tahun 2013, asumsi pertumbuhannya sekitar 8% pertahun. 
 
Sebagai gambaran, jika pada 2012 konsumsi baja dan produk baja sekitar 12,5 juta ton, berarti pada 2013, konsumsi baja dan produk baja bisa mencapai 13,5 juta ton. Sedangkan konsumsi baja tahun ini mejadi 14,7 juta ton. Dengan utilisasi saat ini 65%, Indonesia mengimpor baja dan produk baja 6 juta ton. 
 
Dampaknya kata Irvan, justru pada investasi. Kondisi ekonomi saat ini membuat investasi yang melibatkan industri besi dan baja ikut melempem. 
 
Salah satu industri yang mengeluhkan kenaikkan harga baja adalah industri alat berat. Kenaikan harga baja tidak akan menguntungkan industri dan alat berat. Apalagi, di insdustri ini, diproyeksika permintaan tahun ini tidak sebesar tahun lalu. 
 
Pratjojo Dewo, Ketua Himpunan Alat Berat Indonesia mengatakan, kenaikan harga baja akan menyeret kepada peningkatan harga jual alat berat. “Naiknya nanti karena kita masih memilii stok baja sampai beberapa bulan mendatang”, ujar Pratjojo. Alternatifnya, produsen alat berat akan berhitung dan memilih untuk menggunakan baja local atau impor tergantung mana yang murah. 
 
(sumber : Harian Kontan, Rabu, 26 Februari 2014)