tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Rabu, 12 Ags 2015

Produsen Baja Harus Memiliki Sertifikat

Rencana Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menerbitkan buku Katalog Baja Kontruksi, disambut baik sejumlah pihak. Tidak terkecuali dukungan dari Kenji Pangestu, Ketua Umum Asosiasi Masyarakat Baja Indonesia (AMBI).

Sosok pria yang juga aktif sebagai chairman di IISIA (Indonesia Iron & Steel Industri Association) ini cukup antusias dengan niat Kementerian PUPR. “Ini niat yang baik, sebagai pelaku industri atas nama AMBI tentu kami mendukung,” katanya. Menurutnya, selama ini belum ada informasi tentang baja kontruksi yang terintegrasi dan komprehensif dan dikeluarkan oleh lembaga negara. “Kalau data produksi, dimensi, ukuran, tertentu setiap produsen baja pasti punya, tapi data itu tersebar,” lanjut pria yang lebih sering dipangil dengan ‘Pak Ken’ ini. Karenanya data tersebut perlu dihimpun, dijadikan satu, agar menjadi standar umum jasa pengiriman barang yang dipakai di dunia industri. “Ini salah satu yang belum kita lakukan sampai sekarang dalam rangka meningkatkan sumber daya kontruksi nasional. ” Secara umum, menurut Ken, kondisi industri baja nasional masih menghadapi tantangan berat. Terutama serbuan impor produk dari Tiongkok. Sejumlah pabrik baja cenderung menurunkan produksinya lantaran pasar dibanjiri produk impor Tiongkok.

Misalnya Gunung Garuda Grup yang sebelumnya mampu memproduksi baja hingga 2 juta ton per tahun, kini hanya memproduksi di bawah 1 juta ton. Tak hanya itu, waktu produksi pun dipangkas menjadi hanya 7-10 hari kerja dalam sebulan.

Nah, salah satu upaya dalam meningkatkan sumber daya kontruksi yang terkait langsung dengan industri baja, adalah dengan penyusunan Katalog Baja Kontruksi. Meski dampaknya tidak langsung, tetapi minimal dapat mengedukasi masyarakat. “Setidaknya masyarakat menjadi tahu mana produk lokal ber-SNI dan mana produk impor yang tidak ber-SNI,” tuturnya.

Syarat Masuk Katalog

Dalam audiensi persiapan penyusunan Katalog Baja Kontruksi yang digelar Direktorat Bina Kelembagaan dan Sumber Daya Kontruksi Ditjen Bina Kontruksi Kementerian PUPR beberapa waktu lalu, Ken memberikan jasa cargo udara sejumlah masukan kepada pihak terkait. Salah satunya adalah standar baja kontruksi yang sesuai dengan kebutuhan nasional. “Jika di luar negeri, kontraktor biasanya mengikuti standar dimensi baja yang diproduksi pabrik. Di sini sebaliknya, kita yang mengikuti keinginan kontraktor,” ujarnya.

Akibatnya, pabrik baja tidak bisa memproduksi dengan skala banyak sebagai stok. Lantaran dimensinya berbeda untuk setiap kontruksi. Ken memberi contoh pembangunan jembatan. jasa cargo darat Saat ini tidak ada standar besi baja untuk jembatan yang ditetapkan oleh regulator.

“Setiap ingin bangun jembatan, kontraktor punya spesifikasi baja yang berbeda. Jadi pabrik baru akan memproduksi setelah diminta. Dan ini perlu waktu berbulan-berbulan. Padahal kalau ada standarnya, pabrik bisa produksi dengan stok banyak. Sehingga waktu pembangunan menjadi lebih efisien,” paparnya.

Menurut Ken, hal ini harus dicermati betul oleh regulator. Sebab dengan cara inilah Tiongkok bisa memproduksi baja secara massal. “Di Tiongkok, jangankan baja, kusen jendela, sampai ukuran kursi pun ada standarnya. Tak heran mereka bisa memproduksi massal.”

Hal lain yang perlu dicatat dalam penyusunan katalog ini adalah, setiap produsen harus memiliki mill certificate untuk setiap produk yang dihasilkan. Menurut Ken, sertifikat ini penting untuk menelusuri asal-usul produk bilamana produk ini bermasalah.

“Mill Certificate ini berupa sertifikasi asal-asal produk yang berupa kodefikasi misalnya, nomor dan kode produksi, nomor batch, serta tanggal produksi secara lengkap. Tujuannya untuk menjamin produk tersebut benar jasa pengiriman kilat diproduksi oleh produsen resmi,” papar Ken. Secara pribadi, pria yang sudah puluhan tahun bergelut di industri baja ini, siap memberikan masukan kepada pemerintah secara lebih mendalam untuk penyusunan Katalog Baja Kontruksi.

“Sejatinya, penyusunan katalog bukan tugas pemerintah semata, tapi tugas kita bersama. Toh, kalau katalog ini diterbitkan, yang diuntungkan pelaku industri juga,” katanya  menutup perbincangan.

- See more at: http://steelindonesianews.com/detail.asp?id=1737#sthash.Ng4Tp6aJ.dpuf