tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Kamis, 04 Jun 2015

LIPI Kembangkan Baja Unggul Laterit

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berhasil mengembangkan baja unggul dari bijih nikel kadar rendah (limonit). Baja unggul ini mampu menjadi bahan yang dapat membuat kapal maupun alutsista produksi dalam negeri.

Pengembangan ini dinilai sebagai jawaban LIPI atas komitmen Pemerintahan Jokowi-JK yang ingin menjadikan maritim Indonesia sebagai salah satu poros maritim dunia.

Selain itu, kebutuhan baja nasional tiap tahun terus meningkat, dan pada tahun 2020 angka kebutuhannya ditaksir mencapai 20 juta ton.  Sayangnya, pemenuhan baja lunak yang diproduksi produsen nasional masih terbatas.

Selama ini  bahan baku aja lunak umumnya outbound sentul diimpor dari Brasil dengan waktu pengiriman tiga bulan. Hal itu membuat Indonesia memiliki ketergantungan baja dari negara lain. Padahal Indonesia memiliki sumber daya mineral yang cukup kaya.

Berkaca dari hal tersebut, sejak lama LIPI giat mengembangkan sumber-sumber mineral di Indonesia untuk dijadikan bahan baku yang efisien, ramah lingkungan, dan dapat diproduksi secara massal.

Untuk baja unggul berbasis laterit ini, LIPI telah mengembangkannya sejak awal tahun lalu dan mulai dipublikasikan Desember 2014. Kini, tahapan pengembangan sudah beranjak ke produksi dengan menggandeng sejumlah produsen baja.

Pada tahap uji produksi pertama, LIPI akan memproduksi 100 ton pelat baja, kemudian dilanjutkan dengan 100 ribu ton. Jika uji produksi ini berhasil, maka akan diterapkan ke industri komersil.

Baja unggulan buatan LIPI memiliki endapan besi (nikel) laterit yang merupakan lapisan atas dari biji nikel laterit sehingga mengandung kadar besi yang tinggi dan nikel lebih rendah.

Bila dilebur menjadi baja, bijih besi akan menghasilkan baja dengan kandungan nikel antara 2-3 persen. Dari sinilah diketahui bahwa sebuah angka yang menjanjikan munculnya sifat-sifat unggul baja tersebut.

Kepala LIPI Iskandar Zulkarnain mengatakan arung jeram bogor baja unggul buatan LIPI memiliki 3 keunggulan dibanding baja lunak yang ada di pasaran. Yaitu sifat baja yang berkekuatan tinggi, tahan terhadap korosi atau karat, dan lebih mudah dilas.

Lantaran ketahanannya terhadap korosi, maka aplikasinya bisa untuk infrastruktur transportasi laut antar pulau seperti pembuatan kapal. “Sedangkan dari sifat kekuatan tingginya bisa untuk alutsista," ungkapnya kepada media.

Menurut Iskandar, Indonesia memiliki bahan baku laterit melimpah yakni hingga mencapai 2 miliar ton lebih. Bahan baku ini berkadar Fe rendah sehingga perlu pemurnian kembali untuk dijadikan bahan baku besi.

Akibatnya, laterit lebih banyak diekspor sebagai mineral mentah untuk bahan baku bermacam produk. Padahal sesuai UU Minerba, ekspor mineral mentah sudah tidak diperbolehkan lagi.

Bahan baku baja ini diambil melalui endapan bijih besi laterit atau bijih nikel berkadar rendah (Limonit). Bijih ini biasa diabaikan penambang karena penambang lebih mencari nikel yang berada di lapisan bawah Limonit ini.

Produksi baja unggul bisa jauh lebih ekonomis dalam industri pertambangan. Selain cadangan yang melimpah dan kekuatan yang tinggi, produsen juga tidak perlu mengimpor bahan baku dari luar negeri.

Pada tahap awal LIPI meminta pemerintah memulai produksi masal baja berbasis limonit untuk proyek-proyek kedinasan. Dengan harga sekitar Rp 10 ribu/kg, LIPI berharap pengembangan baja berbasis limonit itu bisa diterima industri secara luas.

Meski pembuatan baja berbasis limonit ini berpotensi memunculkan pro-kontra. Namun, pihak LIPI mengklaim dengan kandungan nikel hanya 1,5 persen sampai 3 persen, masih ditoleransi dalam produksi baja.

Pro-kontra bisa saja terjadi lantaran dalam produksi baja, umumnya produsen baja menekan sebisa mungkin tidak mengandung nikel. Sementara terkait dengan kekuatan baja generasi baru ini, bisa dimodifikasi sesuai dengan kegunaannya.

 

 

http://steelindonesianews.com/detail.asp?id=1691