tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Rabu, 06 Mei 2015

Otot Penjualan Baja Masih Lemas

Otot Penjualan Baja Masih Lemas

 

Jakarta. Penjualan Baja kuartal I-2015 melemah ketimbang penjualan baja periode yang samatahun 2014. Sumber masalah loyonya penjuala berasal dari perlambatan pertumbuhan ekonomi terutama dari perlambatan permintaan sektor properti.

Irvan kamal hakim, Chairman Indonesia Iron and Stell Industries Association (IISIA) bilang, pelemahan penjualan terjadi karna kondisi ekonomi di dalam negeri dan juga di luar negeri. "Permintaan baja akhirnya turun. Kemungkina terkoreksi 40% ketimbang kuartal I-2014, " kata Irvan, Selasa (5/5).

Walaupun baru proyeksi, Irvan menyebutkan, di dalam negeri ekonomi melambat dan daya beli turun. "Lihat saja penjualan consumer goods turun, otomotif turun, keramik turun, properti turun, cerminan ekonomi melambat,"kata Irvan.

Pabrikan baja mulai mengurangiproduksi karna kenaikan harga gas maupun listrik. Kedua komponen ini setidaknya mengantongi 25% beban produksi perusahaan baja. Selain itu, produsen baja berpikir ulang dalam produksi karena depresiasi rupiah. Maklum, bahan baku baja masih mengandalkan impor.

Untuk mengatasi pelemahan penjualan baja ini, Irvan berharap agar proyek infrastruktur pemerintah segera jalan. “Belanja pemerintah bisa membantu, “jelas Irvan.

Adapun factor luar negeri yang mempengaruhi pasar baja nasional berasal dari perlambatan pertumbuhan ekonomi di China menjadi 7% dari periode sebelumnya 7,5%. Kondisi ini membuat pasar baja ikutan turun. Alhasil, produsen baja China berusaha mengalihkansebagian pasarnya ke Indonesia.

Menyadari akan ancaman baja China ini, awal bulan ini pemerintah menaikan bea masuk impor baja dari China dari 0%-5% menjadi 15%. “Kami respon positif kebijakan, karena bisa memberikan sedikit ruang untuk industry baja nasional, “ujar Irvan.

Melihat kondisi baja tahun ini, Irvan memproyeksikan pasar baja tahun ini hanya 13 juta ton – 14juta ton. Untuk kapasitas produksi dalam negeri sekitar 10 juta ton. Ada pun utilitas produksi baja nasional hnya mencapai 4 juta-6 juta ton, sisa kebutuhan dipenuhi oleh impor.

Sebagai perbandingan, penurunan penjualan baja tampak pada kinerja penjualan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS). Dalam laporan keuangan KRAS kuartal I-2015, pendapatan KRAS turun 23,4% menjadi US$352,03 juta. Periode yang sama tahun lalu, pendapatannya US$ 459,49 juta. Adapun rugi KRAS turun menjadi US$ 46,57 juta dari rugi periode yang sama tahun lalu US$ 73,52 juta.

 

Kontan, industry manufactur.