tagline toko besi baja
X

or Forgot password?

ARTICLE

Jumat, 13 Mar 2015

Pelemahan rupiah mulai gencet industri

JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah sampai Rp 13.000 per dollar Amerika Serikat (AS) membuat pusing industri yang memakai bahan baku impor. Sebab, ketika rupiah loyo, pelaku industri mesti menanggung biaya produksi lebih mahal.

Kondisi ini dirasakan oleh PT Krakatau Steel Tbk (KRAS), yang mayoritas memakai bahan baku baja impor untuk produksinya. "Otomatis beban produksi kami naik," kata Irvan Kamal Hakim, Direktur Utama KRAS saat berkunjung ke Kantor Redaksi KONTAN, Senin (9/3).

Irvan menyatakan, KRAS membeli bahan baku bijih besi dari Rusia dan Australia dengan kurs dollar AS. Selain itu, "Kami juga membeli gas dari Pertamina EP, dan PGN (Perusahaan Gas Negara). Semuanya kami beli memakai dollar AS," ujar Irvan.

Dalam hitungan Irvan, komponen produksi yang memakai mata uang dollar AS mencapai 85% dari seluruh biaya produksi. Untuk komponen energi berkontribusi 25% dari total produksi. "Sekitar 60% total beban produksi lain dari bahan baku," katanya.

Tak hanya industri baja, industri properti ikut merasakan imbas pelemahan properti ini. Artadinata Djangkar, Direktur dan Sekretaris Perusahaan PT Ciputra Property Tbk menyatakan, pelemahan rupiah membuat harga bahan bangunan impor ikut membengkak.  "Mau  tidak mau, biaya konstruksi kami menjadi bertambah," jelas Artadinata.

Dia memprediksi, dampak pelemahan rupiah ini membuat biaya konstruksi naik 2%-3%. Sebab, komponen nilai tukar rupiah mewakili 20% biaya konstruksi Ciputra.

Adapun dampak pelemahan rupiah terhadap konsumen properti ini adalah, kenaikan harga jual. Namun, kenaikan harga jual ini hanya bisa dilakukan secara bertahap.

Dampak pelemahan rupiah juga mendera pelaku industri otomotif di Indonesia. Pelemahan rupiah membuat biaya produksi membengkak. Apalagi, industri otomotif nasional masih mengandalkan pasokan komponen dari beberapa negara.

Pelemahan rupiah makin terasa berat oleh agen pemegang merek (APM) mobil yang impor secaracompletely built up (CBU) atau impor utuh. Saat rupiah terus melemah, maka harga mobil CBU ini akan semakin mahal.

Sama dengan properti, pelemahan rupiah akan membuat harga produk otomotif melesat naik. "Kenaikan harga biasanya menyesuaikan kemampuan daya beli masyarakat," terang Rahmat Samulo, Direktur Pemasaran PT Toyota Astra Motor (TAM).

Melihat kondisi ini, Supranoto, Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) berharap agar pemerintah berusaha menjaga rupiah agar bisa stabil. “Kalau fluktuatif seperti sekarang ini, kami kesulitan menentukan harga jual," katanya.

Eksportir untung

Tak seluruh industri terdesak oleh pelemahan rupiah. Ada sebagian industri berbasis ekspor meraup untung saat mata uang Garuda loyo. Seperti yang dialami PT Trisula Internasional Tbk (TRIS). Perusahaan ini justru mencatat kenaikan pendapatan saat rupiah melemah.

Sebab, 95% penjualan garmen Trisula memakai dolar AS. Trisula mengekspor produk ke AS, Inggris, Australia, Malaysia, dan Singapura. "Penjualan kami akan menjadi lebih besar karena faktor kurs rupiah yang melemah," kata  Marcus Harianto Brotoatmodjo, Sekretaris Perusahaan Trisula International Tbk.